UNGGUL DALAM PRESTASI,TERDEPAN DALAM IPTEK, IMTAQ, DAN PEDULI LINGKUNGAN
MARHABAN YA RAMADHAN.... SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1435 H

Sabtu, 28 Januari 2012

Kolonialisme Eropa di Indonesia

BENTUK-BENTUK PERLAWANAN RAKYAT DALAM MENENTANG KOLONIALISME BARAT DI iNDONESIA



Perlawanan Rakyat Makasar
Diantara kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan adalah Gowa dan Talo. Kerajaan Gowa bergabung dengan keajaan tallo dan menjadi kerajaan Gowa-Tallo atau Makasar. Kerajaan Makasar anti dengan Belanda karena politik monopolinya, serta selalu ikut campur urusan politik kerajaan dan membatasi pelayaran orang-orang Makassar.




Sultan Hasanudin merupakan raja Makasar berusaha membela kepentingan rakyat dan kedaulatan kerajaan dari Belanda. Beliau harus menghadapi Aru Palaka raja Bone yang dibantu Belanda. Dengan tipu daya akhirnya Sultan Hasanudin dapat dikalahkan oleh Belanda dan harus menandatangani perjanjian Bongaya tahun 1667, ini berarti berakhirnya kedaulatan kerajaan Makasar. 

Perlawanan Pattimura (1817)
Perlawanan Pattimura terjadi di Saparua, yaitu sebuah kota kecil di dekat pulau Ambon. Sebab-sebab terjadinya perlawanan terhadap Belanda adalah :
1.    Rakyat Maluku menolak kehadiran Belanda karena pengalaman mereka yang menderita dibawah VOC
2.    Pemerintah Belanda menindas rakyat Maluku dengan diberlakukannya kembali penyerahan wajib dan kerja wajib
3.    Dikuasainya benteng Duursteide oleh pasukan Belanda
Akibat penderitaan yang panjang rakyat menetang Belanda dibawah pimpinan Thomas Matulesi atau Pattimura. Tanggal 15 Mei 1817 rakyat Maluku mulai bergerak dengan membakar perahu-perahu milik Belanda di pelabuhan Porto. Selanjutnya rakyat menyerang penjara Duurstede. Residen Van den Berg tewas tertembak dan benteng berhasil dikuasai oleh rakyat Maluku. 


Pada bulan Oktober 1817 pasukan Belanda dikerahkan secara besar-besaran, Belanda berhasil menangkap Pattimura dan kawan-kawan dan pada tanggal 16 Nopember 1817 Pattimura dijatuhi hukuman mati ditiang gantungan, dan berakhir perlawanan rakyat Maluku.   

Perlawanan Rakyat Aceh
Penyebab terjadinya perang Aceh sebagai berikut :
•    Pemerintah kolonial ingin menguasai Aceh sebagai kerajaan yang kuat
•    Traktat London 1824 dan Traktat Sumatra 1871 memberi kedaulatan penuh pada Aceh dan itu menjadi ancaman Belanda yang ingin menguasai seluruh Nusantara. Belanda menuntut Aceh untuk mengakui kedaulatan Belanda di Nusantara namun ditolak oleh rakyat Aceh.
Akhirnya Belanda menyerang tanggal 26 Maret 1873 dibawah pimpinan Jenderal Kohler. Belanda berusaha menguasai Masjid Raya Aceh yang diduga merupakan pusat pertahanan pasukan Aceh. Serangan ini dapat digagalkan dan jenderal Kohler gugur. Belanda mengirimkan pasukan kembali yang dipimpin Jenderal Van Swieten dan berhasil menduduki Kutaraja ibu kota kerajaan Aceh.




Pada bulan Oktober 1817 pasukan Belanda dikerahkan secara besar-besaran, Belanda berhasil menangkap Pattimura dan kawan-kawan dan pada tanggal 16 Nopember 1817 Pattimura dijatuhi hukuman mati ditiang gantungan, dan berakhir perlawanan rakyat Maluku.   

Perang Padri (1821 – 1837)
    Semula perang Padri merupakan perang saudara antara kaum adat dengan kaum Padri yang terjadi di Sumatra Barat. Namun pada perkembangan selanjutnya perang ini meluas menjadi perang antara rakyat Sumatra Barat melawan Belanda
Latar belakang Perang Padri  :
1.    Pertentangan antara Kaum adat dengan kaum Paderi
Kaum adat adalah penganut agama Islam namun mereka juga menjalankan adat kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti berjudi, minum minuman keras, dan menyabung ayam.
Kaum Padri  adalah mereka yang pulang dari ibadah haji dan ingin memberantas adat kebiasaan yang bertengangan dengan ajaran agama Islam.
2.    Campur tangan Belanda untuk membantu kaum adat melawan kaum Padri






Kaum Padri dipimpin oleh Datuk Malin Basa (Imam Bonjol), Tuanku Nan Renceh dan lain-lain. Mereka menggunakan siasat perang gerilya sementara Belanda menggunakan siasat benteng, yaitu mendirikan benteng untuk pertahanan, seperti benteng  Fort van der Capellen di Batu Sangkar dan benteng Fort de Kock di Bukit Tinggi. Perang sempat dihentikan sementara, karena Belanda butuh pasokan tentara yang ada di Sumatra untuk menumpas pemberontakan yang dilakukan Pangeran Diponegoro (di Jawa).
Setelah perang Diponegoro dapat dipadamkan maka tentara ditarik kembali ke Sumatra untuk melanjutkan peperangan melawan kaum Padri.  Dalam perkembangan berikutnya kaum Adat akhirnya bergabung dengan kaum Padri. Pada tahun 1837 pasukan Belanda berhasil menerobos benteng Bonjol dan dapat menangkap Tuanku Imam Bonjol. Selanjutnya Ia diasingkan ke Cianjur lalu dipindahkan ke Minahasa sampai akhirnya wafat. Maka berakhirlah perlawanan Kaum Padri dan Belanda berkuasa di Minangkabau.

Perang Diponegoro (1825 – 1830)    
Sebab-sebab terjadinya perang Diponegoro
A.    Sebab Umumceh(1)    Wilayah raja-raja di Jogyakarta semakin kecil akibat campur tangan Belanda 
(2)    Kesengsaraan golongan bangsawan karena dilarang menyewakan tanahnya
(3)    Para Ulama gelisah dengan berkembangnya kebudayaan yang bertentangan dengan agama islam
(4)    Rakyat menderita akibat tindakan pemerasan oleh Belanda
B.    Sebab Khusus
Belanda merencanakan pembuatan jalan raya yang melintasi tanah leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo (Yogyakarta) tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.



Pasukan Diponegoro menghindari perang terbuka dan melakukan perang gerilya. Untuk menghadapinya Belanda melakukan siasat benteng stelsel yaitu mendirikan banteng pada setiap daerah yang dikuasainya dan mempersempit ruang gerak Pangeran diponegoro
Pada tahun 1830 Pangeran Diponegoro dipancing untuk mau diajak berunding oleh Gubernur Jenderal de Kock . Namun setelah sampai di tempat perundingan Pangeran Diponegoro ditangkap. Akhirnya beliau wafat di benteng Roterdam dan dimakamkan di Makasar Sulawesi Selatan.   


Untuk menghadapi perang itu Belanda menggunakan siasat Konsentrasi Stelsel, yaitu memusatkan kekuatan pada daerah yang sudah dikuasainya. Salah seorang pemimpin Aceh yaitu Teuku Umar berpura-pura bergabung dengan tentara Belanda, tujuannya untuk mendapatkan senjata. Setelah senjata didapat Ia kembali 
Bergabung dengan pejuang lainnya seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Teuku Cik Dik Tiro, Panglima Polim, dll.
Setelah Belanda melaksanakan saran-saran Dr.Snouch Hurgronje akhirnya Aceh dapat dikuasai Belanda tahun 1904.

Perlawanan Rakyat Bali
Di Bali berdiri banyak kerajaan diantaranya kerajaan Buleleng, Karang Asem, Klungkung, Gianyar, Badung, Tabanan, Mengwi, dan Jembrana. Mereka memiliki tradisi Hak Tawan Karang yaitu hak penguasa setempat untuk menawan dan menguasai kapal beserta isinya. Pada tahun 1844 kapal dagang Belanda sengaja di damparkan di Prancak, wilayah kerajaan Buleleng agar terkena Hak Tawan Karang.  
Penawanan kapal tersebut dijadikan alasan Belanda menyerang Buleleng tahun 1848. Pertempuran mempertahankan Buleleng dikenal sebagai Puputan Jagaraga, selain itu Puputan Badung 1906, Puputan Kusamba 1908 dan Puputan Klungkung.




untuk merebut Benteng Jagaraga, Belanda mendatangkan pasukan secara besar-besaran.  Belanda menyerang dari depan dan belakang benteng. Benteng Jagaraga dihujani tembakan meriam. Banyak korban berjatuhan, tidak ada satupun laskar jagaraga yang melarikan diri. Mereka semua gugur termasuk  I Gusti Ketut Jelantik .

Perlawanan Rakyat Banjar
Perlawanan di Kalimantan Selatan (Banjarmasin) terjadi karena persaingan anggota keluarga kerajaan untuk naik tahta pada tahun 1859. Banyak anggota kerajaan yang ingin naik tahta bekerjasama dengan Belanda. Keadaan di atas ditentang salah seorang Pangeran yaitu Pangeran Antasari. 

Pangeran Antarasi melakukan perlawanan sampai tahun 1862, dan berakhir tahun 1863.

Perang Tapanuli (1878 – 1907)
    Perlawanan mengusir Belanda terus terjadi di berbagai daerah. Perlawanan dilakukan oleh raja, sultan, pangeran maupun oleh rakyat. Perlawanan rakyat Tapanuli yang dilakukan dilingkungan kerajaan Batak dipimpin oleh raja Sisingamangaraja XII. 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates