Thursday, September 18, 2014

Puisi-Puisi Shandy Surya Kelas IX.A



Kemarau di Sumatera
Karya: Shandy Surya
Padang rumput penuh ilalang
Angin semiyut kering kerontang
Pada keluasan bumi pertiwi
Dalam sepuhan musim berganti
Sinaran matahari menyengat kegarangan
Tahun sekarang, hujan dingin ingkar datang!
Di atas dahan pohon pinus
Ada kegelisahan rindu yang menghaus
Di ketinggian terbang si burung belibis
Serak sambil menangis
Menagih awan
dan secercah harapan
Sari pati jagad telah menghunus
Hawa panas empat puluh derajat celcius
Hutan pinus menjadi gurun tandus
Membuat harapan semakin pupus
Kuda dan sapi haus dan lapar
Mencari kali di semak belukar
Namun api sudah membakar
Hutan asri lenyap tak mengabar
Kemarau panjang di sumatera
Tahun kematian bagi fauna dan flora
Mereka telah lelah menagih janji alam
Siang yang melarat segera inginkan malam
Kharisma sumatera menjadi semu
Mahkota pun telah terjarah
Sumatera keindahanmu
Kini tinggal sejarah





*****&&&&*****



Sepucuk Wasiat Untuk Sahabat Bumi
Salam sejahtera dan salam hijau untuk seluruh sahabat bumi
Saudara-saudaraku dan seluruh anak cucu,
Hal penting yang harus diketahui adalah lingkungan hidup merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam interaksi antara makhluk dan lingkungannya.
Saudara-saudaraku dan seluruh anak cucu,
Hal penting yang harus dicamkan adalah bahwa manusia menjadi salah satu faktor yang dominan dan paling banyak menimbulkan kerusakan lingkungan.
Jika tidak ada keseimbangan dari keseluruhan unsur lingkungan dan manusia akan berakibat kerusakan dan pemusnahan salah satu atau sebagian manfaat dari lingkungan.
Saudara-saudaraku dan seluruh anak cucu,
Hal yang harus diingat adalah bahwa lingkungan hidup yang ada sekarang adalah bukanlah warisan dari nenek moyang yang dapat digunakan sekarang. Akan tetapi merupakan titipan dari generasi yang akan datang, sehingga dalam memanfaatkannya harus diperhatikan kelangsungan dan kelestarian agar dapat digunakan oleh generasi kalian.
Saudara-saudaraku dan seluruh anak cucu,
Hal penting yang harus direnungkan adalah bahwa jika aku, orang-orang pada zamanku dan kalian tidak mampu mempertahan setiap jengkal sawah, ladang dan hutan dari pembangunan rumah, gedung, jalan dan pertambangan. Tak mampu menghentikan pembuangan limbah padat, cair dan gas, maka jangan pernah bertanya mengapa, jika di zamanmu dan zaman anak cucumu kelak tetanaman pangan, pepohonan, hewan ternak dan satwa liar hanya kau temui dalam wujudnya sebagai awetan di museum atau telah menjadi fosil. Oksigen murni harus kau bayar mahal per tabungnya dan bagaimana pula jika air bersih nanti akan menjadi sebab peperangan di antara kalian? Kalian pun harus merasa kenyang hanya dengan memandang herbarium tanaman padi dan taksidermi hewan ternak. Jangan pernah mengeluhkan tumpukan sampah plastik yang kian menutup halaman rumah, sekolah, dan jalanan bahkan di bawah tempat tidurmu.
Aku adalah manusia dari abad ke-21 yang pada zamanku menjadi salah satu pejuang yang menjaga titipan kalian. Lalu sudikah kalian menjaga alam ini sebagai titipan anak cucu kalian?


*****&&&*****



Nuansa Panen Raya

Indahya bulan ini dalam nuansa panen raya
Para petani pun bersuka ria
Langit biru mempersunting hamparan padi yang menguning
Terlukis molek dalam cermin selarik sungai yang mengalir bening
Bulir padi kian berisi pertanda hasil kerja keras membuahkan asa
Urat-urat tubuh yang kesat di punggung dan lengan mereka
Menggambarkan besarnya perjuangan
Setiap hari sejak pagi hingga menjelang petang
Bagi mereka
Bertani bukanlah apa-apa
Tetapi menanam padi adalah darah dan daging yang terus memompa semangat, harapan dan sebuah mimpi kecil mereka
Selintas ingat akan peristiwa bulan januari lalu
Saat persaudaraan terasa begitu kental dalam tabuh
Sinar mentari turut menghangatkan keharmonisan
Kegembiraan di kala anak-anak berebut makanan
Dan keakraban bersedau gurau di tengah luasnya ‘ume’
Ya sedekah ume!
Sebuah pesta tradisi yang menghimpun harapan besar
Merayu Sang Pencipta untuk menjaga tanaman padi mereka agar tumbuh kekar
Mengendapkan awan menjadi rintik hujan
Menyiram hati yang tertanam agar tidak gersang
Putihnya isi hati yang kian tertunduk sebagai bulir
Menghidupi semua orang dari hulu hingga ke hilir
Kini waktunya ‘bebiye’ kawan!
Waktu semua orang bersatu dalam kebahagiaan
Tawa ria di tengah kuning padi yang rapi berjajar
Rasa kegotong-royongan kian mengakar
Hidup berdampingan erat tak bersela
Dalam nuansa keindahan panen raya
Ingatlah kawan
Ini adat dan budaya negeri kita
Kemanapun kau bertandang
Jagalah warisan tradisi kita
Agar tak luntur paras asli negeri
Indonesia tercinta yang berbalut tradisi
Keterangan :
Ume artinya sawah
Bebiye artinya bersama-sama

******&&&*****


Di Balik Malam I

Karya: Shandy Surya
Ranting-ranting malam
Terbang menuju kehendak alam
Suara rengekan burung terdengar nakal
Membuat beban terlupakan dalam khayal
Keheningan menemani malam pekat
Menjadi saat untuk beribadat
Membasuh kegersangan hati
Lama tandus tak disirami
Ketika rasa cinta berbunga surga
Ketika rasa takut berbuah patut
Ketika ingkar menyulut api berkobar
Ketika berkata bisa menjadi neraka
Malam menjadi kalab
Menyimpang dari maksud alam
Gelap menjadi saksi tindak biadab
Gelap tak mesti hitam
Hitam tersirat makna hampa
Malam bukan berarti Tuhan menuntup mata
Alam menuntun para hamba
Beribadah kepada sang Pencipta

 *****&&&*****

Di Balik Malam II
Karya: Shandy Surya
Suara kegetiran hidup telah redup
Semangat juang di hari esok telah dipersiap
Mengisi segenap tenaga dengan tidur
Nyanyian keperihan telah padam
Kuncup-kuncup kesetiaan pada alam
Me-layu di waktu malam
Di keheningan jagad, ku terjaga
Bersimpuh di atas sajadah
Dengan menuai janji yang telah usang


0 comments:

Post a Comment